Amalan yang Tidak Disyariatkan di Bulan Sya’ban

Amalan yang Tidak Disyariatkan di Bulan Sya’ban bagian 2

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وسلم وبارك عَلَى نبينَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَ أصَحابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ

Ikhwāniy Fīdīn wa Akhawātiy Fīllāh A’ādzaniyallāh wa Iyyakum.

Setelah sebelumnya kita membahas amalan yang tidak disyariatkan di bulan Sya’ban bagian 1, pada kesempatan kali ini kita akan coba lanjutkan pembahasan tentang amalan yang tidak disyariatkan di bulan Sya’ban bagian 2.

Beberapa amalan yang tidak disyari’atkan di bulan Sya’ban, di antaranya:

Amalan yang Tidak Disyariatkan di Bulan Sya’ban

5. Pesta Kecil

Melakukan semacam haflah atau pesta kecil di malam tersebut dengan membagi-bagikan makanan kepada teman atau tetangga, maka yang demikian tidak ada dalīlnya (sunnahnya).

Fatwa dari Ibnu Hajar Al-Haitani (ulama mazhab Syafi’i) di dalam fatawanya ketika beliau di tanya tentang puasa di pertengahan bulan Sya’ban.

Apakah yang demikian disunnahkan?

Beliau menyebutkan bahwasanya mengkhususkan hari tersebut untuk berpuasa dan malamnya untuk melakukan shalāt sunnah (shalāt malam), kata beliau ini termasuk bid’ah (perkara yang diada-adakan).

Dan beliau menyebutkan bahwasanya Subkhi (ulama madzhab Syafi’i), mengingkari amalan seperti ini, dan menyebutkan bahwasanya hadīts yang berkaitan dengan hal ini adalah hadīts yang maudhu (palsu).

Tentang masalah membagi-bagikan makanan tadi saya bawakan fatwa dari Syaikh bin Bazz rahimahullāh.

Beliau ditanya tentang الاحتفال بليلة النصف من شعبان melakukan pesta kecil puasa malam Nishfu Sya’ban.

Beliau mengatakan:

من البدع التي أحدثها بعض الناس: بدعة الاحتفال بليلة النصف من شعبان، وتخصيص يومها بالصيام، وليس على ذلك دليل يجوز الاعتماد عليه، وقد ورد في فضلها أحاديث ضعيفة لا يجوز الاعتماد عليها،

“Termasuk di antara perkara yang diada-adakan, yang diadakan oleh sebagian manusia adalah pesta di malam Nishfu Sya’ban, dan mengkhususkan harinya untuk berpuasa, yang demikian tidak ada dalīl untuk dijadikan sandaran, dan telah datang hadīts-hadīts dhaif yang berkaitan dengan keutamaannya, bahkan tidak boleh dijadikan pegangan.”

Berkata Syaikh Utsaimin rahimahullāh:

الصحيح أن صيام النصف من شعبان أو تخصيصه بقراءة، أو بذكر لا أصل له، فيوم النصف من شعبان كغيره من أيام

“Yang benar, bahwasanya berpuasa pada malam Nishfu Sya’ban atau mengkhususkan malam tersebut untuk membaca Al-Qur’ān atau mengkhususkan malam tersebut untuk dzikir, ini tidak ada dasarnya. Maka pertengahan Sya’ban seperti pertengahan-pertengahan lainnya.”

Kalau melakukan shalāt malam pada malam Nishfu Syaban karena sudah terbiasa melakukan shalāt malam, maka ini boleh.

Jika seseorang sudah terbiasa shalāt malam, lalu pada malam Nishf Sya’ban tidak melakukan shalāt malam, ini tidak benar.

Berkata Syaikh Muhammad Shālih Al-Utsaimin ketika ditanya tentang melakukan shalāt malam pada malam Nishfu Sya’ban.

Beliau mengatakan:

“Melakukan shalāt malam pada malam tersebut ada tiga tingkatan:

أن يكون له عادة في قيام الليل فيفعل في ليلة النصف ما يفعله في غيرها من غير أن يخصها بزيادة، معتقداً أن لذلك مزية فيها على غيرها، فهذا أمر لا بأس به

⑴ Seseorang sudah memiliki kebiasaan untuk melakukan shalāt malam. Maka silahkan dia melakukan shalāt pada malam tersebut, melakukan apa yang biasa dia kerjakan tanpa mengkhususkan tambahan tertentu. Maka yang demikian tidak masalah.

أن يصلى في هذه الليلة، أعني ليلة النصف من شعبان دون غيرها من الليالي، فهذا بدعة

⑵ Dia melakukan shalāt malam pada malam tersebut, tapi pada malam-malam lain dia tidak tidak melakukan shalāt malam, maka ini bid’ah.

أن يصلى في تلك الليلة صلوات ذات عدد معلوم، يكرر كل عام، فهذه المرتبة أشد ابتداعاً من المرتبة الثانية وأبعد عن السنة.

⑶ Dia melakukan shalāt pada malam tersebut dengan shalāt yang memiliki jumlah tertentu (shalāt alfiyyah) dan diulang-ulang setiap tahun, maka tingkatan ketiga ini lebih parah daripada yang kedua.

Demikian pula Syaikh Muhammad Shālih Al-Utsaimin pernah ditanya tentang keyakinan sebagian yang meyakini bahwa malam tersebut ditentukan atau ditaqdirkan rezeki bagi seseorang, ditadqirkan seluruh amalan dan selainnya, maka beliau mengatakan:

وهذا باطل، فإن الليلة التي يقدر فيها ما يكون في العام هي ليلة القدر،

“Yang demikian adalah bathil karena sesungguhnya malam yang ditaqdirkan di dalamnya taqdir selama setahun adalah pada malam lailatul Qadar.”

Mungkin itu yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga sedikit yang kita sampaikan tadi bermanfaat dan menjadikan kita lebih semangat beramal pada bulan Sya’ban ini dan menjadikan amalan kita adalah amalan yang berdasarkan ilmu.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Oleh Ustadz Abdullāh Roy

Leave a Comment