keutamaan bulan ramadhan

Keutamaan Bulan Ramadhan

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Ikhwāniy Fīdīn wa Akhawātiy Fīllāh A’ādzaniyallāh wa Iyyakum.

Telah kita singgung sebelumnya bahwa materi tentang bulan Ramadhan ini dibagi menjadi 3 poin. Poin yang pertama kita telah membahas Kegembiraan dalam Menyambut Bulan Ramadhan. Dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas Keutamaan Bulan Ramadhan. Dan InsyaAllah pada kesempatan berikutnya kita akan melanjutkan ke poin ketiga yaitu Bagaimana Kita Menyambut Bulan Ramadhan.

Materi yang akan kita sampaikan adalah tentang “Keutamaan Bulan Ramadhān” dan (poin) ini masih berhubungan dengan poin pertama, supaya kita lebih bergembira dan lebih semangat di dalam menyambut bulan (Ramadhān) ini.

Keutamaan Bulan Ramadhan

Dibuka Pintu Surga, Ditutup Pintu Neraka

Sebagaimana dalam hadīts bahwasanya di bulan Ramadhān dibuka pintu Surga dan ditutup pintu Neraka dan di belenggu syaithān-syaithān.

Dalīlnya adalah hadīts yang tadi kita sebutkan, di dalam sebuah lafazh “dibuka pintu-pintu Surga”.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ

“Apabila masuk bulan Ramadhān, maka pintu-pintu Surga dibuka, dan akan ditutup pintu-pintu Jahannam, dan akan dibelenggu syaithān-syaithān.”

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 3277)

Ini menunjukkan bahwasanya Surga memiliki pintu. Dan disebutkan dalam hadīts yang lain bahwasanya jumlah pintu Surga ada 8 (delapan).

Dan dalam ayat disebutkan bahwasanya Jahannam memiliki 7 (tujuh) pintu:

لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٰبٖ

“Jahanam itu mempunyai tujuh pintu.” (QS Al Hijr: 44)

وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ

“Dan akan dibelenggu syaithan-syaithan.”

Hadīts di atas menunjukkan tentang keutamaan bulan Ramadhān bahwasanya di bulan tersebut, pintu Surga yang jumlahnya ada 8 (delapan) akan dibuka dan pintu-pintu Neraka akan ditutup. Dan pada bulan tersebut (Ramadhān) Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan membelenggu syaithān-syaithān.

(Hadīts shahīh diriwayatkan oleh Al-Bukhāri dan Muslim)

Ada yang mengatakan bahwasanya ditutupnya pintu Jahannam dan dibukanya pintu Surga ini adalah atas hakikatnya, dan menunjukkan bahwasanya ini adalah bentuk pengagungan terhadap bulan tersebut, sehingga dibuka pintu Surga dan ditutup pintu Neraka dan dibelenggu syaithān-syaithān.

  • Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah hakikatnya demikian.
  • Ada yang mengatakan bahwa maksudnya di sini adalah isyarat tentang banyaknya pahala di bulan Ramadhān.

Yang dimaksud dibuka pintu Surga adalah banyaknya orang yang bertaubat, banyaknya pahala yang Allāh berikan kepada orang-orang yang beramal.

Yang dimaksud ditutup pintu Neraka adalah sedikitnya kemaksiatan pada bulan tersebut, dan ini disebutkan di antaranya oleh Syaikh Utsaimin rahimahullāh.

Beliau mengatakan:

وإنما تفتح أبواب الجنة في هذا الشهر لكثرة الأعمال الصالحة، وترغيبا للعاملين، وتغلق أبواب النار لقلة المعاصي من أهل الإيمان، وتصفد الشياطين فتغل فلا يخلصون إلى ما يخلصون إليه في غيره.

“Dan sesungguhnya dibuka pintu-pintu Surga karena banyaknya amal shālih di bulan tersebut dan untuk mendorong orang-orang yang beramal shālih. Dan ditutup pintu-pintu Neraka karena sedikitnya kemaksiatan yang dilakukan oleh orang-orang yang beriman. Dan dibelenggu syaithan-syaithan sehingga mereka tidak leluasa menggoda manusia sebagaimana leluasanya mereka di selain bulan Ramadhān.”

Jadi ada yang mengatakan maksudnya adalah hakikat, dan ada yang menyatakan ini adalah isyarat banyaknya pahala dan sedikitnya kemaksiatan pada bulan tersebut.

Bulan Ramadhān adalah bulan turunnya Al- Qurān

Dan Al-Qurān sebagaimana kita tahu adalah petunjuk dan rahmat bagi manusia dan di dalamnya ada cahaya. Barangsiapa yang memegang isi Al-Qurān maka dia akan berjalan di atas bumi ini dengan cahaya, tidak bingung di dalam hidupnya, mengetahui apa yang harus dilakukan, mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah memilih turunnya Al-Qurān di bulan Ramadhān, di antara sekian banyak bulan yang ada selama satu tahun.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًۭى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍۢ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhān, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qurān, sebagai petunjuk bagi manusia, dan bukti yang nyata dari petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS Al-Baqarah: 185)

Ini diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di bulan Ramadhān. Oleh karena itu di antara amalan yang diperbanyak di dalam bulan Ramadhān adalah membaca Al-Qurān.

Dahulu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau memperbanyak membaca Al-Qurān di bulan Ramadhān, lebih banyak daripada apa yang beliau baca di selain bulan Ramadhān.

Allāh telah mengkhususkan ibadah puasa yang merupakan salah satu rukun Islām

Puasa Ramadhān merupakan rukun Islām, dan dia adalah kewajiban. Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183)

Dan di dalam hadīts, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

بني الإسلام على خمس: شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدًا رسول الله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصيام رمضان، وحج بيت الله الحرام

“Islām dibangun di atas lima perkara، Syahādat Laa ilaaha illa Allah dan (syahāhat) Muhammad Rasūlullāh, menegakkan shalāt, membayar zakāt, puasa Ramadhān dan haji ke baitul Allāh Al-Haram.”

Puasa satu bulan ini, Allāh pilih di antara sekian banyak bulan dari 12 bulan, dilakukan kewajiban yang mulia ini di bulan Ramadhān.

Kewajiban puasa ini mulai diwajibkan pada tahun 2 Hijriyyah, dan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam selama hidupnya melakukan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhān, selama 9 kali, dari tahun ke-2 Hijriyyah sampai tahun ke-10 Hijriyyah, dan beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam meninggal dunia pada tahun ke-11 Hijriyyah.

Disyari’atkan Shalāt Tarawih

Sebagaimana sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang melakukan shalāt malam di bulan Ramadhān (yaitu shalāt Tarawih), karena iman dan mengharap pahala dari Allāh maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.”

(Hadīts shahīh riwayat Al-Bukhāri nomor 37 dan Muslim nomor 759)

Hadīts ini menunjukkan tentang keutamaan melakukan shalāt malam (shalāt Tarawih) di bulan Ramadhān dengan iman dan mengharap pahala dari Allāh, dan pahalanya adalah diampuni dosanya yang telah lalu.

Yang dimaksud dengan diampuni dosa yang telah lalu dalam hadīts ini adalah dosa-dosa kecil, adapun dosa besar maka jumhur ulamā mengatakan tidak diampuni dosanya kecuali dengan dia bertaubat kepada Allāh Azza wa Jalla.

Artinya tidak diampuni dengan sebab amal shālih akan tetapi karena taubat nasuha yang dilakukan oleh seseorang.

Di dalam bulan Ramadhān ada malam Lailatul Qadr

Sebagaimana hadīts di atas:

لِلَّهِ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Bagi Allāh di dalam bulan tersebut ada sebuah malam yang lebih baik daripada 1000 bulan. Barangsiapa yang beribadah di malam tersebut, melakukan amalan yang shālih di malam tersebut maka pahalanya akan dilipat gandakan oleh Allāh Azza wa Jalla, sehingga seakan-akan dia mengamalkan amalan tersebut selama lebih daripada 1000 bulan (kurang lebih 83 tahun).

Seandainya kita melakukan shalāt malam di malam tersebut maka pahala kita dilipat gandakan oleh Allāh Azza wa Jalla sehingga kita mendapatkan ganjaran orang yang shalāt lebih dari 83 tahun.

Membaca Al-Qurān di malam tersebut pahalanya dilipat gandakan oleh Allāh sehingga kita akan mendapatkan ganjaran orang yang membaca Al-Qurān selama lebih dari 83 tahun, dan seterusnya.

Ini adalah karunia yang besar dan jarang di antara manusia yang umurnya sampai 83 tahun. Tetapi apabila dia diberikan taufīq oleh Allāh sehingga bisa beramal di malam tersebut, maka ini adalah taufīq dari Allāh dia akan mendapatkan keutamaan yang besar dilipat gandakan amalannya sebagaimana ayat di dalam surat Al-Qadr dan hadīts yang mulia ini.

Di dalam bulan Ramadhan ada pembebasan dari Neraka

Sebagaimana di dalam hadīts dimana beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

ونادى منادٍ يا باغيَ الخيرِ أقبِلْ ويا باغيَ الشَّرِّ أقصِر وللَّهِ عتقاءُ منَ النَّارِ وذلِك في كلِّ ليلةٍ

Disebutkan dalam hadīts ada yang memanggil (di bulan tersebut):

“Wahai orang yang mencari kebaikan, menghadaplah! dan wahai orang yang mencari kejelekan pergilah. Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla pada malam tersebut memiliki orang-orang yang akan dibebaskan dari Neraka. Pembebasan tersebut dilakukan setiap malam.”

(Hadīts shahīh riwayat Ibnu Mājah dan dishahīhkan oleh Syaikh Al-Bāniy rahimahullāh)

Jadi setiap malam ada orang yang dibebaskan oleh Allāh dari neraka (artinya) dia tidak akan masuk ke dalam Neraka.

Makna hadīts ini adalah orang yang berdosa yang seharusnya dia berhak mendapatkan adzab dalam Neraka dibebaskan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla sehingga dia tidak masuk ke dalam Neraka.

Umrah di bulan ini mendapatkan pahala haji

Sebagaimana sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِى فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِىه تعدل حَجَّة

“Jika Ramadhān tiba, berumrahlah saat itu karena sesungguhnya umrah di bulan Ramadhān sebanding dengan haji.”

(Hadīts shahīh riwayat Al-Bukhāri dan Muslim)

Ini adalah beberapa keutamaan yang berkaitan dengan bulan Ramadhān.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Oleh Ustadz Abdullāh Roy

2 thoughts on “Keutamaan Bulan Ramadhan”

Leave a Comment