menyambut bulan ramadhan

Kegembiraan Dalam Menyambut Bulan Ramadhan

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Ikhwāniy Fīdīn wa Akhawātiy Fīllāh A’ādzaniyallāh wa Iyyakum.

Setelah kita membahas tentang amalan yang tidak disyariatkan di bulan Sya’ban bagian 1 dan bagian 2, pada kesempatan kali ini kita akan coba membahas bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap ketika menyambut bulan Ramadhan.

Materi yang akan kita sampaikan adalah tentang “Menyambut Bulan Ramadhan”.

Menyambut Bulan Ramadhan

Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama bahwasanya kita sekarang sedang di depan datangnya bulan Ramadhān, padahal tidak terasa telah berlalu satu tahun, dan sepertinya kemarin kita baru meninggalkan bulan Ramadhān, dan masih terngiang-ngiang kesibukan kita selama bulan Ramadhān pada tahun yang lalu.

Ikhwāniy Fīdīn wa Akhawātiy Fīllāh A’ādzaniyallāh wa Iyyakum.

Kali ini akan kita bagi menjadi beberapa poin.

  1. Kegembiraan di dalam menyambut Ramadhān.
  2. Keutamaan bulan Ramadhān
  3. Bagaimana dan apa yang kita lakukan sebelum kita mendapati bulan Ramadhān.

Kegembiraan di dalam menyambut Ramadhān.

Ikhwāhniy fīdīn wa Akhawātiy fīllāh A’ādzaniyallāh wa Iyyakum.

Mendapatkan bulan Ramadhān dan menemui bulan Ramadhān adalah nikmat dan karunia yang besar bagi seseorang.

Ketika dia bisa menemui bulan Ramadhān dalam keadaan sehat, maka ini adalah keutamaan yang agung dan karunia yang besar dari Allāh ‘Azza wa Jalla bagi seseorang, karena dia mendapatkan keutamaan dan bulan yang agung yang di dalamnya dia bisa menambah bekal perjalanan dia menuju akhirat.

Disebutkan di dalam hadīts, bahwasanya seorang Arab Badui berkata kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

يَا رَسُولَ اللَّهِ من خَيْرٌ النَّاسِ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“Yā Rasūlullāh, siapakah orang yang paling baik di antara manusia? Maka beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) mengatakan: “Orang yang paling baik adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya”.”

(Hadīts riwayat At Tirmidzī di dalam sunnannya dan dishahīhkan oleh Syaikh Al bāniy rahimahullāh)

Dipanjangkan oleh Allāh ta’ala diberikan usia, diberikan kesempatan, kemudian dia memperbaiki amalannya, artinya dia bisa memanfaatkan usia dan waktu yang diberikan kepada dirinya dengan baik.

Di antaranya dengan diberikan kesempatan untuk menemui bulan Ramadhān, diberikan kesehatan sehingga bisa melaksanakan ibadah dan ketaatan di bulan Ramadhān dengan maksimal.

Ini adalah nikmat bagi seseorang dan karunia yang besar apabila dia bisa menemui bulan Ramadhān. Kita sambut dengan gembira.

Dahulu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sebelum datangnya bulan Ramadhān, beliau memberikan kabar gembira kepada para shahābatnya, dengan kedatangan bulan yang mulia ini.

Sebagaimana dalam hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu ketika beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

”Telah datang kepada kalian bulan Ramadhān, sebuah bulan yang berbārakah, Allāh Subhānahu wa Ta’āla mewajibkan atas kalian berpuasa di bulan tersebut. Dibuka pintu-pintu langit dan di tutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu syaithān-syaithān yang ganas.

Bagi Allāh di dalamnya ada sebuah malam yang lebih baik daripada 1000 bulan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan malam tersebut sungguh dia telah diharamkan dari sesuatu yang baik (dijauhkan dari kebaikan yang besar).”

(Hadīts shahīh diriwayat kan oleh An Nassā’i)

Berbarakah, maksudnya banyak kebaikannya, dilipat gandakan ganjaran, dan di dalamnya kita lihat orang-orang Islām mereka berlomba siang dan malam untuk mendekatkan diri mereka kepada Allāh ‘Azza wa Jalla. Sedikit kemaksiatan.

Dan ini menunjukkan bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dahulu memberikan kabar gembira kepada para shahābat nya dengan kedatangan bulan Ramadhān.

Maka sepantasnyalah bagi seorang yang beriman yang mengetahui bahwasanya umurnya sangat terbatas dan dia mengetahui bahwa dia akan kembali kepada Allāh dan tidak ada bekal yang paling baik daripada taqwa, pantaslah bagi dia untuk bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhān.

Maka yang pertama hendaklah ada pada diri seorang muslim dan muslimah alfarah (bahagia) dan gembira dengan kedatangan bulan Ramadhān ini. Ini adalah di antara adab.

Dan kita memuji Allāh Azza wa Jalla, bersyukur kepada Allāh karena sudah didekatkan dengan bulan Ramadhān, bulan yang penuh dengan ampunan, penuh dengan rahmat, bulan untuk memperbaiki diri.

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:

قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌۭ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: “Dengan kurnia dari Allāh dan rahmat-Nya, maka hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allāh dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS Yūnus: 58)

Jangan hanya bergembira dengan dunia, tapi bergembira dengan rahmat dari Allāh ta’ala dan karunia yang berupa pahala yang akan dibagi-bagikan oleh Allāh ‘Azza wa Jalla bagi orang-orang yang beriman dan beramal shālih di bulan Ramadhān.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Oleh Ustadz Abdullāh Roy

Leave a Comment